Bandung — Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tancap gas membekali mahasiswa menghadapi kerasnya persaingan kerja global. Lewat Seminar Ketenagakerjaan bertema Strategi Lulusan Saintek Menembus Pasar Kerja Global, Selasa (7/4/2026), fakultas ini menegaskan: ijazah saja tidak cukup.
Diikuti tidak kurang dari 90 mahasiswa tingkat akhir, forum ini menghadirkan praktisi dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Sigit Ary Prasetyo, dan Kepala CDC Heri Gunawan. Pesannya lugas: kenali “nilai, identitas, dan spesialisasi” diri, bangun personal branding, dan jangan menunggu peluang—ciptakan.
Wakil Dekan III Undang Syaripudin, Ph.D menegaskan urgensi kesiapan sejak dini. Senada dengan Kepala Career Development Center (CDC) UIN Bandung Dr. Heri Gunawan, M. Pd. memotret pasar kerja global yang kian kompetitif sekaligus menyoroti peran strategis CDC sebagai jembatan kampus–industri, dari akses lowongan hingga magang.
Koordinator Pengembangan Kemitraan dan Jejaring Pasar Kerja Kemnaker RI Sigit Ary Prasetyo, SE , M.A.P., menambahkan, kunci bertahan ada pada adaptabilitas dan lifelong learning. Ia juga membekali peserta dengan simulasi aplikasi pencarian kerja resmi pemerintah—langkah praktis, bukan sekadar teori.
Sedangkan Dekan FST Prof. Hasniah Aliah mengingatkan, lulusan kini dituntut lebih dari sekadar pintar secara akademik: harus adaptif, inovatif, dan mampu berkomunikasi lintas budaya. Tanpa itu, sulit bersaing di level internasional.
Diskusi mengerucut pada satu masalah klasik: minimnya pengalaman praktis dan eksposur global. Solusinya jelas—perbanyak magang, pelatihan, dan sertifikasi sejak sebelum lulus.
Singkatnya, FST UIN Bandung mengirim sinyal tegas: masa depan karier tidak ditentukan saat wisuda, tapi dari seberapa dini strategi itu disiapkan. (Humas_FST)

